Advertisement

Jam'iyyah Asy-Syarifiyyah

Ikhtiar Memasyarakatkan Mahabatillah wa Rosulillah SAW.

Pekalongan, Jawa Tengah

Berita Terkini Daerah Pekalongan dan Sekitarnya.

Nahdlotul Ulama

KH. Hasyim Asy’ari : “Siapa yang mengurusi NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya”

Teknologi Masa Depan

Bangkit Menjadi Manusia, Manfaatkan Teknologi Untuk Meraih Masa Mendatang (Jangan Berlama-lama dengan Hayalan).

Sejarah Dunia, Sejarah Kita

Jangan lupakan sejarah : “Akibat tak pandai menghargai jasa pendahulu, tidak berterima kasih, keberkahan tercabut dari muka bumi ini”

Kamis, 23 April 2015

Lirik Lagu Zunea-Zunea oleh Cleopatra Stratan


Intr-o seara cu Costica
Eu c-o sticla, el c-o sticla
Am udat cu mana noastra
Florile de pe fereastra
Restul ce-o ramas in sticla
I-am turnat si lui pisica
Nu stiu floarea ce-o sa simta
Dar pisica d-amu canta
Si noi cantam cu dansa

Hop-pa zunea zunea
Hop-pa toata lumea
Lumea toata ii incantata
De pisica talentata
Hop-pa hai ca-i buna
Hop-pa nu-i o gluma
Toti il cata pe Costica
Sa le mai aduc o sticla

Sa le mai aduca o sticla
Toti il cata pe Costica
Sa le mai aduca o sticla

Pestisorii sa nu taca
Le-am turnat si lor oleaca
Numai ratele din curte
Mute-au fost si-au ramas mute
Nu stiu ce-o sa fie maine
Dar acum la toti le e bine
Cum se vede mai Costica
Sigur n-o fost apa-n sticla
Dar ce-o fi fost acolo?

Hop-pa zunea zunea
Hop-pa toata lumea
Lumea toata ii incantata
De sticluta fermecata
Hop-pa hai ca-i buna
Hop-pa nu-i o gluma
Pana dimineata toata lumea
Canta numai zunea zunea

Canta numai zunea zunea
Pana dimineata toata lumea
Canta numai...

Hop-pa zunea zunea
Hop-pa toata lumea
Lumea toata ii incantata
De pisica talentata
Hop-pa hai ca-i buna
Hop-pa nu-i o gluma
Toti il cata pe Costica
Sa le mai aduc o sticla

Hop-pa zunea zunea
Hop-pa toata lumea
Lumea toata ii incantata
De sticluta fermecata
Hop-pa hai ca-i buna
Hop-pa nu-i o gluma
Pana dimineata toata lumea
Canta numai zunea zunea!


Ket. Foto : Bersama anak-anak HDY di Masjid Agung Kajen, 16 Maret 2012.

"Bersama-sama meraih masa depan yang sempurna"

Rabu, 22 April 2015

Sapuro Pekalongan Bersholawat, Rajaban 2013


Pembacaan pembukaan Maulid Al-Habsyi oleh Habib Ali Zaenal Abidin As-Seggaf ( Menantu Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan ) beserta grup rebana Al-Munsyidin Pekalongan ( Pimpinan Ustad Nizar dari Kebulen Pekalongan ) dalam rangka mengisi acara PHBI Isro wal Mi'roj Nabi Muhammad SAW ( Rajaban ) bersama masyarakat Sapuro, yang disponsori oleh Majlis Hidayatullah Sapuro ( Diasuh oleh Ustad Ranu ) dan remaja Musholla Daru Al-Falah ( Sapuro Gg.2 ).
acara ini tepatnya pada hari Kamis malam Jum'at tanggal 6 Februari 2013.

Sabtu, 11 April 2015

Dibalik Hikmah Sakit


Baginda Yang Mulya Rasulullah Saw bersabda : “Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.” Allah memerintahkan :


  1. Malaikat pertama untuk mengambil kekuatannya sehingga menjadi lemah.
  2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya.
  3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi.
  4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya , maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa.

Tatkala Allah akan menyembuhkan hamba mukmin itu, Allah memerintahkan kepada malaikat 1, 2 dan 3 untuk mengembalikan kekuatannya, rasa lezat, dan cahaya di wajah sang hamba. Namun untuk malaikat ke 4, Allah tidak memerintahkan untuk mengembalikan dosa-dosanya kepada hamba mukmin.
Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata : “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”
Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dan buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut.”
Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Sakit panas dalam sehari semalam, dapat menghilangkan dosa selama setahun.” dalam lain hal “Tiada seorang mu’min yang ditimpa oleh lelah atau penyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan dijadikan penebus dosanya oleh Allah” (HR Bukhari-Muslim)
Sakit, sebagaimana juga setiap ujian, bukan menguji ketangguhan dan kemampuan. Sebab sakit Allah beri sudah sesuai dengan takaran dan daya tahannya.
Ia sejatinya menguji kemauan untuk memberi makna. Maka bagi dia yang mampu memberi makna terbaik bagi sakit, insya Allah kemuliaannya diangkat dan membuat malaikat yang selalu sehat takjub.
Sakit adalah jalan kenabian Ayub yang menyejarah. Kesabarannya yang lebih dari batas (disebut dalam sebuah hadits 18 tahun menderita penyakit aneh) diabadikan jadi teladan semesta. Dan atas kenyataan sejarah tersebut, hari ini cobalah bercermin kepadanya.
Hari ini pula kita bisa bercermin kepada sosok-sosok mulia yang pernah juga sakit. Sakit, yang di ujung penggal kehidupan mereka yang ditemukan adalah kemuliaan serta terus bertambah derajat kemuliaanya di mata Allah SWT.
Imam As-Syafi’i wasir sebab banyak duduk menelaah ilmu; Imam Malik lumpuh tangannya dizhalimi penguasa; Nabi tercinta kita pun pernah sakit oleh racun paha kambing di Khaibar yang menyelusup melalui celah gigi yang patah di perang Uhud. Bukankah setelah akhirnya sakit, semuanya semakin mulia di mata Allah bahkan juga di mata sejarah manusia.
Sakit itu zikrullah. Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.
Sakit itu istighfar. Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun. Sakit itu tauhid. Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?
Sakit itu muhasabah. Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. Sakit itu jihad. Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah; diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya.
Bahkan sakit itu ilmu. Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.
Sakit itu nasihat. Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya.
Sakit itu silaturrahim. Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.
Sakit itu gugur dosa. Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya. Sakit itu mustajab doanya. Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh mereka.
Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis; satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.
Sakit meningkatkan kualitas ibadah; rukuk-sujud lebh khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama.
Sakit itu memperbaiki akhlak; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.
Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati. Mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambutnya, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan. Karena itu mulailah belajar untuk tetap tersenyum dengan sakit. Wallahu A’lam.



"Bersama-sama meraih masa depan yang sempurna"

Jumat, 10 April 2015

Hubungi Kami

Segala pertanyaan, komentar, kritik dan saran yang membangun untuk blog kami, sangat kami harapkan dari Anda.

Phone : +6285640803070
Email : irzyam.com@gmail.com

Alamat Rumah : Jl. Irian Gg.1 No.30 Sapuro Pekalongan Jateng Indonesia 51112


"Bersama-sama meraih masa depan yang sempurna"

Rabu, 08 April 2015

Syair Qosidah Huwa Nuur


Lirik Sholawat Huwannur ( Dialah Pelita Cahaya )

Ya ALLAH, Limpahkanlah Selawat dan Salam Sejahtera keatas Sayyidina Muhammad ﷺ dan keatas Keluarga Sayyidina Muhammad ﷺ...
❞هو النور يهدي الحائرين ضياؤه = وفي الحشرظلُ المرسلين لِواؤُه

Dialah Nabi ﷺ Pelita Cahaya yang memberi petunjuk orang-orang yang bimbang di Padang Mahsyar Panjinya sebagai pemberi naungan...


تلقى من الغيب المجرد حكمة = بها امطرت في الخافقين سماؤه

Sampailah kepadanya hikmah tanpa perantara apapun dengan hikmah itu hujanlah langit (dengan Rahmat) di segala penjuru barat dan timur...


ومشهود اهل الحق منه لطائف = تخبر ان المجد والشأو شأوه

Para saksi dari para Ahli Ma`rifah yang dalam kebenaran, menyaksikan dari Beliau ﷺ kasih sayang dan kelembutan-kelembutan, dikhabarkan sungguh apa yang terjadi adalah dengan keinginanmu (ﷺ)...


فلله ماللعين من مشهد اجتلا= يعزعلى اهل الحجاب اجتلاؤه

Padaku penglihatan apa-apa yang kusaksikan sangatlah berpijar luhur, menundukkan para pemilik kemuliaan yang masih tertutup penglihatannya dari pandangan keluhuran ini...


ايانازحا عني ومسكنه الحشا = اجب من ملا كل النواحي نداؤه

Wahai yang jauh dariku dan tempatnya di lubuk hati yang terdalam, jawablah wahai Saudaraku seruan (Sang Nabi ﷺ) yang memenuhi segala penjuru...


اجب من تولاه الهوى فيك وامض في= فؤادي مايهوى ويشاؤه

Jawablah wahai yang diriku adalah terbenam dalam rindu padamu (ﷺ) dan mengalir pada sanubariku apa-apa yang dirindukan sanubari ini dan yang ia (diriku) dambakan...


بنى الحب في وسط الفواد منازلا = فلله بان فاق صنعا بناؤه

Cinta membangun Istana Agung di dalam hati yang terdalam, demi ALLAH, sungguh tempat itu paling tinggi dan indah di antara bangunan (tempat) yang lain..


بحكم الولا جردت قصدي وحبذا = موال ارواح القلب منه ولاؤه

Dengan keputusan pasrah kubiarkan yang lainnya berlalu dari semua keinginanku, dan alangkah indahnya Sang Baginda menenangkan hati ini dari wewenang lembutnya...


مرضت فكان الذكر براءا لعلتي = فياحبذا ذكرا لقلبي شفاؤه

(Jika) aku sakit, maka menceritakan tentangnya (ﷺ) adalah obat bagi penyakitku, sungguh indah, menyebutnya adalah obat bagi hatiku...


اذا علم العشاق داي فقل لهم = فان لقا احباب قلبي دواؤه

Jika para perindu mengetahui penyakitku, maka katakan kepada mereka, sesungguhnya perjumpaan dengan kekasih hati itulah obatnya...


ايا راحلا بلغ حبيبي رسالة = بحرف من الاشواق يحلو هجاؤه

Wahai orang yang berjalan (ke Madinah) sampaikan lembaran cinta kepada Kekasihku (ﷺ) dengan indahnya ejaan huruf-huruf kerinduan...


وهيهات ان يلقى العذول الى الحشا = سبيلا سواء مدحه وهجاؤه

Maka sulitlah bagi yang memusuhi cinta ini sampai ke batas yang tidak mungkin, mencapai jalan kebenaran dengan memujinya (ﷺ) dan mengucapkan padanya (ﷺ)...


فوادي بخير المرسلين مولع = واشرف مايحلو لسمعي ثناؤه

Jiwaku terbakar (karena cinta) dengan sebaik-baik Utusan, dan yang terindah di pendengaranku adalah mendengar pujiannya...


رقى في العلى والمجد اشرف رتبة = بمبداه حار الخلق كيف انتهاؤه

Mulia dalam tangga-tangga keluhuran, semulia-mulia tingkatan yang semakin luhur, dalam awal cinta dan rindu pada Beliau ﷺ akan muncul hangat membara di hati makhluk, maka bagaimana keadaan yang telah mencapai puncaknya... ?


ايا سيدي قلبي بحبك بايح = وطرفي بعد الدمع تجري دماؤه

Wahai Tuanku, hatiku lebur dengan kecintaan kepadamu, mata ini niscaya menangis darah setelah air mata mengering dan tidak mengalir...


اذا رمت كتم الحب زادت صبابتي = فسيان عندي بثه وخفاؤه

Jika engkau sembunyikan cinta maka akan bertambah kecintaanku dan airmataku, maka sama sahja bagiku, ku ungkapkan cinta itu atau ku sembunyikannya...


اجب ياحبيب القلب دعوة شيق = شكى لفح نار قد حوتها حشاؤه

Jawablah seruan kerinduan ini wahai Kekasih hati, rintihan api kerinduan telah menyelimuti lubuk hatiku...


ومرطيفك الميمون في غفلة العدا = يمر بطرف زاد فيك بكاؤه

Maka lewatkanlah keindahan dan kelembutanmu saat hamba-hamba ummatmu (ﷺ) yang tenggelam dalam kelupaan, lintasan keindahan dan kemuliaanmu yang membuat berlinangnya airmata...


لي الله من حب تعسر وصفه = ولله امري والقضاء قضاؤه

Duhai ALLAH, sungguh sulit cinta ini di ungkapkan, semua ini hanya kepada ALLAH kupasrahkan karena ketentuan adalah KetentuanNYA...


فيارب شرفني برؤية سيدي = واجل صدى القلب الكثير صداؤه

Wahai ALLAH, Muliakanlah aku dengan memandang Tuanku (Sayyidina Muhammad) dan Bersihkanlah hati yang penuh dengan kekeruhan ini...


وبلغ عليا مايروم من اللقا = باشرف عبد جل قصدي لقاؤه

Dan Sampaikanlah pada diriku (al-Habib `Ali al-Habsyi) pada puncak harapan untuk berjumpa dengan semulia-mulia hamba,dan perjumpaan dengannya adalah segala tujuanku...


عليه صلاة الله ماهبت الصبا = وما اطرب الحادي فطاب حداؤه

Atasnya Curahan Selawat selama angin berhembus sebanyak asyik merdunya Qasidah pujian yang memadukan cinta padamu (ﷺ), maka semakin indahlah yang menyatukan hati dalam cinta padanya (ﷺ)...


مع الال والصحب ماقال منشد = هو النور يهدي الحائرين ضياؤه

Beserta Keluarga, Sahabat dan yang diucapkan oleh Munsyid (Pembaca Qasidah), dialah Pelita Cahaya yang memberi petunjuk orang-orang yang bimbang... ❞


Ya ALLAH, Limpahkanlah Selawat dan Salam Sejahtera keatas Sayyidina Muhammad ﷺ dan keatas Keluarga Sayyidina Muhammad ﷺ.



"Bersama-sama meraih masa depan yang sempurna, Semoga bermanfaat"

Nama-Nama Para Pejuang AHLUL BADR 313

Ahlu Badr radiyallahu ‘anhum, Mereka adalah orang-orang paling mulia, sehingga di dalam hadits dijelaskan bahwa ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pendapat beliau tentang para sahabat beliau Ahlu Badr, maka Rasul berkata : ”Mereka Ahlu Badr adalah orang-orang muslim yang paling afdhal”, mereka lebih afdhal dari semua muslimin yang lain, dan muslim lain tidak ada yang lebih afdhal dari mereka.
Ahlu Badr adalah perpaduan dari bangsa Arab dan bukan bangsa Arab (ajam), dari kaum budak dan orang-orang merdeka, dari golongan kaum jelata hingga golongan orang yang kaya raya, dan diantara mereka pula para Ahlu bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bendera dipegang oleh dua kelompok , satu dari Muhajirin dan yang satu dari kaum Anshar, bendera Muhajirin dibawa oleh oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah Ra benderanya berwarna hitam demikian yang dijelaskan dalam sirah Ibn Hisyam, dan bendera kaum Anshar berwarna putih. Demikian dahsyatnya perang Badr Al Kubra, maka Rasul berkata bahwa mereka adalah muslimin yang paling afdhal, dan di saat itu pun Jibril menjawab bahwa malaikat yang ikut di perang Badr mereka juga malaikat yang paling afdhal.
Do’a Sayyidina Muhammad Shollallahu ‘Alayhi Wasallam dalam Peristiwa Perang Badr :
“Ya Allah Ya Tuhanku”, “Ini 313 orang jiwa yang suci ini sedang berperang untuk melawan yang menganggu Agama-Mu (Islam). Jika orang yang 313 ini dibantai habis oleh kaum kafir quraisy mungkin tidak akan ada yang menyembah-Mu Ya Rabb.”
Dan Allah SWT pun tidak mau lihat kekasihNya bersedih. pada akhirnya Allah SWT pun menurunkan 5.000 pasukan Malaikat AS, dalam peperangan badar tersebut dan yang memakai sorban putih dari pemimpin pasukan para Malaikat itu adalah Sahabat Mulia Sang Nabi SAW yaitu Sayyidina Malaikat Jibril ‘Alaihi ‘Salam.
Akhirnya pasukan 313 yang dipimpin oleh Sang Nabi SAW memenangkan peperangan Mulia tersebut.


Berikut Nama-Nama Para Pejuang AHLUL BADR 313 :
1. Sayyiduna Muhammad Rasulullah s.a.w.
2. Abu Bakar as-Shiddiq r.a.
3. Umar bin al-Khattab r.a.
4. Utsman bin Affan r.a.
5. Ali bin Abu Tholib r.a.
6. Talhah bin ‘Ubaidillah r.a.
7. Bilal bin Rabbah r.a.
8. Hamzah bin Abdul Muttolib r.a.
9. Abdullah bin Jahsyi r.a.
10. Al-Zubair bin al-Awwam r.a.
11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim r.a.
12. Abdur Rahman bin ‘Auf r.a.
13. Abdullah bin Mas’ud r.a.
14. Sa’ad bin Abi Waqqas r.a.
15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
16. Anasah al-Habsyi r.a.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib r.a.
24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah r.a.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
26. Salim (maula Abu Huzaifah) r.a.
27. Sinan bin Muhsin r.a.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
31. Syuja’ bin Wahab r.a.
32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
33. Yazid bin Ruqais r.a.
34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
35. Rabi’ah bin Aksam r.a.
36. Thaqfu bin Amir r.a.
37. Malik bin Amir r.a.
38. Mudlij bin Amir r.a.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
46. Al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
47. Mas’ud bin Rabi’ah r.a.
48. Zus Syimalain Amru bin Amru r.a.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
50. Amir bin Fuhairah r.a.
51. Suhaib bin Sinan r.a.
52. Abu Salamah bin Abdul Asad r.a.
53. Syammas bin Uthman r.a.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
55. Ammar bin Yasir r.a.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
57. Zaid bin al-Khattab r.a.
58. Amru bin Suraqah r.a.
59. Abdullah bin Suraqah r.a.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) r.a.
62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi r.a.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
65. Amir bin Rabi’ah r.a.
66. Amir bin al-Bukair r.a.
67. Aqil bin al-Bukair r.a.
68. Khalid bin al-Bukair r.a.
69. Iyas bin al-Bukair r.a.
70. Uthman bin Maz’un r.a.
71. Qudamah bin Maz’un r.a.
72. Abdullah bin Maz’un r.a.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
74. Ma’mar bin al-Harith r.a.
75. Khunais bin Huzafah r.a.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
77. Abdullah bin Makhramah r.a.
78. Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
80. Hatib bin Amru r.a.
81. Umair bin Auf r.a.
82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
84. Amru bin al-Harith r.a.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
86. Safwan bin Wahab r.a.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
88. Sa’ad bin Muaz r.a.
89. Amru bin Muaz r.a.
90. Al-Harith bin Aus r.a.
91. Al-Harith bin Anas r.a.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi r.a.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
102. Abdullah bin Sahl r.a.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
104. Ubaid bin Aus r.a.
105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd r.a.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi r.a.
108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah r.a.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
123. Tha’labah bin Hatib r.a.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi r.a.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
130. Jubr bin ‘Atik r.a.
131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
133. Abdullah bin Jubair r.a.
134. Asim bin Qais bin Thabit r.a.
135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
137. Salim bin Amir bin Thabit r.a.
138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah r.a.
142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
148. Abdullah bin Rawahah r.a.
149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah r.a.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
154. Abdullah bin Abbas r.a.
155. Yazid bin al-Harith bin Qais r.a.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah r.a.
158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah r.a.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
161. Abdullah bin Umair r.a.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
163. Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai r.a.
166. Aus bin Khauli bin Abdullah r.a.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
170. Amir bin Salamah r.a.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
172. Amir bin al-Bukair r.a.
173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah r.a.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
176. Aus bin al-Somit r.a.
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah r.a.
178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
182. Amru bin Iyas r.a.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
194. Dhamrah bin Amru r.a.
195. Ziyad bin Amru r.a.
196. Basbas bin Amru r.a.
197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
202. Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
207. Hubaib bin Aswad r.a.
208. Thabit bin al-Jiz’i r.a.
209. Umair bin al-Harith bin Labdah r.a.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr r.a.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid r.a.
222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
225. Abdullah bin Abdi Manaf r.a.
226. Jabir bin Abdullah bin Riab r.a.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
228. An-Nu’man bin Yasar r.a.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
233. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid r.a.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman r.a.
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah r.a.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
245. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
257. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari r.a.
260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza r.a.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid r.a.
268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
272. Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
274. Ishmah al-Asyja’i r.a.
275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru r.a.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit r.a.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit r.a.
285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith r.a.
286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi r.a.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
291. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
292. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim r.a.
295. Sulaim bin Milhan r.a.
296. Haram bin Milhan r.a.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
299. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah r.a.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah r.a.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal r.a.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
313. Oleh bin Syuqrat r.a. (khadam Nabi s.a.w.)

( oleh : Al Habib Munzir Bin Fu’ad Al Musawa )


"Bersama-sama meraih masa depan yang sempurna"

Selasa, 07 April 2015

Nasab Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad


Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad bin Muhammad bin ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad al-Haddad (belaiu orang yang pertama dijuluki Al-Haddad sehingga menjadi menjadi marga atau keturunan bagi anak cucunya) bin Abu Bakar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Faqih bin Abdurrahman bin Alwi Amul Faqih bin Muhammad Shohib Marbath bin Ali Kholi’ Qosam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib/Sayyidatina Fatimah az-Zahra’ binti Rasulillah saw.

Beliau dilahirkan di Zubair pinggiran kota Tarim, sebuah kota yang terkenal menjadi pusat orang-orang alim dan zuhud di Propinsi Hadramaut Yaman Selatan, pada malam senin 5 safar 1044 H / 1623 M. Penulis Kitab Syarah Rotib Al-Haddad yaitu Al-Habib Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad (cucu Shohibur Rotib) pada bab Khatimul Kitab hal. 490 menuturkan sebagai berikut ;

Sayyidina Al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith Ba’alawi di dalam kitabnya yang berjudul Bahjatul Fuad Mukhtasor Fi Ghoyatil Qosd wal Murod mengatakan: “kelahiran Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad disambut dengan amat gembira oleh sejumlah sayyid terkemuka di Hadramaut dengan ucapan Thola’asy Syamsu (matahari telah terbit)”.

Beberapa orang dari kaum Munawarin (berhati cerah) menuturkan kepada saya tentang ayah Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang juga termasuk orang shaleh sebagai berikut: “dahulu saya (seorang dari kaum Munawarin) pernah bepergian bersama seorang ahli kasyaf As-Syeikh Abdul Qadir bin Muhammad Ba syarahil penguasa daerah Ghuraib, ke Tarim untuk mengunjungi orang-orang shaleh di sana. Saya diajak bertemu dengan sejumlah anak-anak yang sedang bermain-main, diantara mereka terdapat Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Penguasa Ghuraib itu berkata kepada saya: “lihatlah anak itu dikemudian hari ia akan mengalami hal yang amat besar”.

Leluhur beliau yang pertama hijrah ke Hadramaut ialah Al-Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir pada tahun 317 H / 896 M. Beliau meninggalkan kota Basroh Iraq dan menetap di Hadramaut bersama 70 orang keluarga dan pengikutnya, sejak saat itu berkembanglah keturunan beliau sehingga menjadi kabilah terbesar di sana dan dikenal dengan sebutan Al-Alawiyin atau dalam logat Hadramaut dikenal ba’alawi kependekan dari kata Bani Alawi yaitu keturunan dari Imam Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir.

Banyak diantara mereka yang menjadi ulama-ulama besar dan dai-dai terkemuka bahkan lebih dari sepertiga penduduk dunia diIslamkan oleh keluarga ini termasuk diantaranya Indonesia, karena Wali Songo dan para mubaligh Islam di Indonesia mayoritas adalah dari keluarga Al-Alawiyin. Menurut perkiraan Al-Habib Sholeh bin Hamid Al-Alawi jumlah mereka pada tahun 1366 H / 1945 M, di Hadramaut tidak kurang dari 70.000 jiwa, terdiri dari kurang lebih 200 marga. Dari salah satu diantara marga-marga itulah yakni marga Al-Haddad yaitu marga Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.

Beliau dibesarkan langsung di bawah pengawasan ketat oleh ayahandanya Al-Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad. Dalam usia 3 tahun Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad kehilangan penglihatan matanya akibat penyakit cacar, namun Allah swt menggantinya dengan penglihatan batinnya. Mendapat musibah yang besar semacam itu beliau sangat tabah, bahkan memacu semangatnya untuk lebih bersemangat dalam menuntut ilmu dan beramal kebajikan. Perhatian dan kasih sayang yang dicurahkan secara khusus oleh ayahandanya menjadi salah satu penyebab kesuksesannya dikemudian hari. Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad meski telah kehilangan kedua penglihatannya, tumbuh menjadi seorang pemuda yang selalu optimis untuk menatap masa depan, apalagi ditambah dengan bakat alamiah dan kecerdasan serta kecermelangan otak beliau yang dalam usia sangat dini beliau telah hafal kitab Al-Qur’an, mempelajari dan menguasai kitab-kitab karangan Imam Ghazali yang memang sangat digemari masyarakat di sana, pengaruh kitab-kitab inilah yang membawa bliau ke dalam lingkungan hidup yang didominasi warna kesufian yang kuat, kecenderungan ini pada mulanya tidak berkenan di hati ayahanda beliau yang kemudian menyarankan beliau agar mempelajari ilmu-ilmu syariat dhohiriyah sebelum apa yang oleh kalangan sufi disebut ilmu haqiqot.

Maka mulailah beliau mempelajari ilmu-ilmu tafsir, hadits, tarikh, dll, di bawah bimbingan sejumlah guru besar di zaman itu, diantara lain adalah Al-Habib Aqil bin Abdurrahman As-Segaf, Syeikh Sahl bin Ahmad Bahasan, Al-Habib Abdurrahman bin Syeikh Al-Aidid, Quthbil Anfas Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Athas, dll.

Menurut keterangan Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab kumpulan ucapan-ucapannya berjudul Tasbitul Fuad beliau pernah berguru kepada tidak kurang dari 100 orang Ulama. Beliau juga berusaha keras menempuh jalan kebenaran (Sabilur Rosyad), senantiasa menekuni ibadah dan selalu bermujahadah. Diantara keluargaku ada yang melarangku terlalu banyak melakukan hal itu, karena kasihan melihatku. Pada tahapan pertama dari kegiatanku itu, dahulu aku pernah menghentikan beberapa bentuk mujahadah, semata-mata untuk melegakan perasaan ayah ibuku yang sangat kasihan terhadap diriku”.

Beliau juga pernah menuturkan “Dahulu bila aku keluar meninggalkan tempat belajar Al-Qur’an, aku langsung menuju ke masjid dan di sana aku melakukan ibadah sunah (Nafilah) sebanyak-banyaknya. Kadang-kadang aku shalat 100 rakaat dan ada kalanya juga shalat 200 rakaat” itulah yang belau lakukan di masa kecil.

Demikianlah masa muda beliau seperti diceritakan pula oleh orang-orang yang mengenalnya, beliau lebih cenderung menjauhkan diri dari cara hidup remaja seusia beliau. Pada waktu-waktu tertentu beliau sering menyendiri (khalwat) di tempat-tempat sunyi, di lembah-lembah dan bukit-bukit sekitar kota Tarim untuk bertafakur dan ibadah. Namun kebiasaan beliau ini tidak mengurangi ketekunan dalam menuntut ilmu, beliau juga sering mengunjungi masjid-masjid untuk bertabarukan, dan ziarah ke makam Nabi Hud as yang berada di Lembah Dauan, juga ke makam-makam leluhur beliau dan ulama-ulama yang banyak tersebar di sana. Beberapa orang sahabat beliau menceritakan “Pada tahun yang lalu kami bersama beliau berziarah ke Pusara Nabiyullah Hud As, pada suatu malam aku tidur disengat kala jengking dan tidak dapat tidur sepanjang malam kulihat beliau tidak tidur sama sekali, ketika ku tanyakan hal itu beliau menjawab bahwa sudah selama 30 tahun beliau dalam keadaan seperti itu, 20 tahun kemudian beliau wafat”.

Al-Habib Syeikh bin Hasan Al-Jufri mengatakan “Setelah Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad menikah dengan saudariku, beliau tinggal serumah dengan kami, setiap malam kuamati beliau tidak pernah tidur”.

Beliau sendiri mengatakan “Pada masa permulaan (dari kegiatan mendekatkan diri kepada Allah swt) kami sudah mengurangi makan, makanan yang hendak kami makan, kami timbang dahulu dengan sekerat lidi untuk mengukurnya sedikit-demi sedikit” beliau tidak makan lebih dari satu suap, sekedar untuk dapat berdiri. Beliau sendiri mengatakan “sudah sejak lama selera makan telah tercabut dari diriku dan aku tidak makan kecuali sekedar yang diperlukan”
Semoga bermanfaat.
"Bersama-sama meraih masa depan yang sempurna"

Doa Mohon Dijauhkan Dari Hutang

Ijazah doa dari Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan dan Abu Sayyid Muhammad bin Alwy al-Maliki Mekkah
Doa ini dibaca setiap sehabis sholat 5 waktu, sebanyak tiga kali agar lebih segera terkabul. Ini doanya :
“للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazan, wa a'udzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a'udzubika minal jubni wal buhkl, wa a'udzubika min ghalabatid-daini wa qahrir-rijaal
“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kesusahan dan kedukaan, dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat takut (miskin) dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari belenggu hutang dan tekanan manusia”
Lanjutkan dengan wirid setiap usai sholat sunnah 2 rakaat sebelum sholat fardhu subuh….
SUBHANALLAH WA BIHAMDI, SUBHANALLAH AL-AZHIM, ASTAGFIRULLAH 100X
Artinya: Maha Suci Allah dengan segala puji-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung, aku memohon ampunan-Mu Pegang dada sebelah kiri (jantung) dengan tangan kanan sambil membaca
YAA FATTAH YAA RAZZAQ 70X
Artinya: Yang Maha Pembuka, Yang Maha Pemberi Rezeki
Semoga Bermanfaat

Senin, 06 April 2015

Dzikir Ma'iyyah

Dzikir Ma'iyyah (Asy Syeikh Al Allamah Abdullah bin Sa'ad Bin Sumair).

اللهُ مَعِى اللهُ شَاهِدِى اللهُ حَاضِرِى اللهُ نَاظِرِى اللهُ قَرِيْبٌ مِنِّى

Allahu ma'ii, Allahu syaahidii, Allahu haadhirii, Allahu naazhirii, Allahu qoriibum minnii.
Artinya: Allah bersama saya, Allah menyaksikan saya, Allah ada bersama saya, Allah melihat saya, Allah dekat dengan saya. Al Habib Hasan bin Sholeh Al Bahr berkata: Wahai saudaraku, jika kamu ingin dipanggil sebagai orang besar di kerajaan langit dan bumi, lalu dimasukkan kedalam kelompok yang tinggi, yakni kelompok para Nabi, Shidiqin dan para Malaikat yang suci, serta ingin agar hatimu hidup dan selalu dalam kebahagiaan, maka tekunilah dzikir ini. Alfaqir (Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Alaydrus) ijazahkan dzikir Ma'iyyah tersebut bagi siapa saja yang mau mengamalkannya, dzikir ini dibaca sebanyak-banyaknya sehabis sholat lima waktu, minimal dibaca 3x dan dibaca didalam hati 3x sebelum tidur sambil dihayati artinya, maka hatimu akan memperoleh cahaya kebahagiaan dan cahaya kebenaran. (di dalam Kitab Sabilul Muhtadin – Al Habib Abdullah bin Alwi bin Hasan Al Attas, dan kitab Majmu Washaya – Al Habib Hasan bin Sholeh Al Bahr)