Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad bin Muhammad bin ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad al-Haddad (belaiu orang yang pertama dijuluki Al-Haddad sehingga menjadi menjadi marga atau keturunan bagi anak cucunya) bin Abu Bakar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Ahmad Al-Faqih bin Abdurrahman bin Alwi Amul Faqih bin Muhammad Shohib Marbath bin Ali Kholi’ Qosam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib/Sayyidatina Fatimah az-Zahra’ binti Rasulillah saw.
Beliau dilahirkan di Zubair pinggiran kota Tarim, sebuah kota yang terkenal menjadi pusat orang-orang alim dan zuhud di Propinsi Hadramaut Yaman Selatan, pada malam senin 5 safar 1044 H / 1623 M.
Penulis Kitab Syarah Rotib Al-Haddad yaitu Al-Habib Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad (cucu Shohibur Rotib) pada bab Khatimul Kitab hal. 490 menuturkan sebagai berikut ;
Sayyidina Al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith Ba’alawi di dalam kitabnya yang berjudul Bahjatul Fuad Mukhtasor Fi Ghoyatil Qosd wal Murod mengatakan: “kelahiran Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad disambut dengan amat gembira oleh sejumlah sayyid terkemuka di Hadramaut dengan ucapan Thola’asy Syamsu (matahari telah terbit)”.
Beberapa orang dari kaum Munawarin (berhati cerah) menuturkan kepada saya tentang ayah Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang juga termasuk orang shaleh sebagai berikut: “dahulu saya (seorang dari kaum Munawarin) pernah bepergian bersama seorang ahli kasyaf As-Syeikh Abdul Qadir bin Muhammad Ba syarahil penguasa daerah Ghuraib, ke Tarim untuk mengunjungi orang-orang shaleh di sana. Saya diajak bertemu dengan sejumlah anak-anak yang sedang bermain-main, diantara mereka terdapat Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Penguasa Ghuraib itu berkata kepada saya: “lihatlah anak itu dikemudian hari ia akan mengalami hal yang amat besar”.
Leluhur beliau yang pertama hijrah ke Hadramaut ialah Al-Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir pada tahun 317 H / 896 M. Beliau meninggalkan kota Basroh Iraq dan menetap di Hadramaut bersama 70 orang keluarga dan pengikutnya, sejak saat itu berkembanglah keturunan beliau sehingga menjadi kabilah terbesar di sana dan dikenal dengan sebutan Al-Alawiyin atau dalam logat Hadramaut dikenal ba’alawi kependekan dari kata Bani Alawi yaitu keturunan dari Imam Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir.
Banyak diantara mereka yang menjadi ulama-ulama besar dan dai-dai terkemuka bahkan lebih dari sepertiga penduduk dunia diIslamkan oleh keluarga ini termasuk diantaranya Indonesia, karena Wali Songo dan para mubaligh Islam di Indonesia mayoritas adalah dari keluarga Al-Alawiyin. Menurut perkiraan Al-Habib Sholeh bin Hamid Al-Alawi jumlah mereka pada tahun 1366 H / 1945 M, di Hadramaut tidak kurang dari 70.000 jiwa, terdiri dari kurang lebih 200 marga. Dari salah satu diantara marga-marga itulah yakni marga Al-Haddad yaitu marga Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.
Beliau dibesarkan langsung di bawah pengawasan ketat oleh ayahandanya Al-Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad. Dalam usia 3 tahun Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad kehilangan penglihatan matanya akibat penyakit cacar, namun Allah swt menggantinya dengan penglihatan batinnya. Mendapat musibah yang besar semacam itu beliau sangat tabah, bahkan memacu semangatnya untuk lebih bersemangat dalam menuntut ilmu dan beramal kebajikan. Perhatian dan kasih sayang yang dicurahkan secara khusus oleh ayahandanya menjadi salah satu penyebab kesuksesannya dikemudian hari. Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad meski telah kehilangan kedua penglihatannya, tumbuh menjadi seorang pemuda yang selalu optimis untuk menatap masa depan, apalagi ditambah dengan bakat alamiah dan kecerdasan serta kecermelangan otak beliau yang dalam usia sangat dini beliau telah hafal kitab Al-Qur’an, mempelajari dan menguasai kitab-kitab karangan Imam Ghazali yang memang sangat digemari masyarakat di sana, pengaruh kitab-kitab inilah yang membawa bliau ke dalam lingkungan hidup yang didominasi warna kesufian yang kuat, kecenderungan ini pada mulanya tidak berkenan di hati ayahanda beliau yang kemudian menyarankan beliau agar mempelajari ilmu-ilmu syariat dhohiriyah sebelum apa yang oleh kalangan sufi disebut ilmu haqiqot.
Maka mulailah beliau mempelajari ilmu-ilmu tafsir, hadits, tarikh, dll, di bawah bimbingan sejumlah guru besar di zaman itu, diantara lain adalah Al-Habib Aqil bin Abdurrahman As-Segaf, Syeikh Sahl bin Ahmad Bahasan, Al-Habib Abdurrahman bin Syeikh Al-Aidid, Quthbil Anfas Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Athas, dll.
Menurut keterangan Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab kumpulan ucapan-ucapannya berjudul Tasbitul Fuad beliau pernah berguru kepada tidak kurang dari 100 orang Ulama. Beliau juga berusaha keras menempuh jalan kebenaran (Sabilur Rosyad), senantiasa menekuni ibadah dan selalu bermujahadah. Diantara keluargaku ada yang melarangku terlalu banyak melakukan hal itu, karena kasihan melihatku. Pada tahapan pertama dari kegiatanku itu, dahulu aku pernah menghentikan beberapa bentuk mujahadah, semata-mata untuk melegakan perasaan ayah ibuku yang sangat kasihan terhadap diriku”.
Beliau juga pernah menuturkan “Dahulu bila aku keluar meninggalkan tempat belajar Al-Qur’an, aku langsung menuju ke masjid dan di sana aku melakukan ibadah sunah (Nafilah) sebanyak-banyaknya. Kadang-kadang aku shalat 100 rakaat dan ada kalanya juga shalat 200 rakaat” itulah yang belau lakukan di masa kecil.
Demikianlah masa muda beliau seperti diceritakan pula oleh orang-orang yang mengenalnya, beliau lebih cenderung menjauhkan diri dari cara hidup remaja seusia beliau. Pada waktu-waktu tertentu beliau sering menyendiri (khalwat) di tempat-tempat sunyi, di lembah-lembah dan bukit-bukit sekitar kota Tarim untuk bertafakur dan ibadah. Namun kebiasaan beliau ini tidak mengurangi ketekunan dalam menuntut ilmu, beliau juga sering mengunjungi masjid-masjid untuk bertabarukan, dan ziarah ke makam Nabi Hud as yang berada di Lembah Dauan, juga ke makam-makam leluhur beliau dan ulama-ulama yang banyak tersebar di sana.
Beberapa orang sahabat beliau menceritakan “Pada tahun yang lalu kami bersama beliau berziarah ke Pusara Nabiyullah Hud As, pada suatu malam aku tidur disengat kala jengking dan tidak dapat tidur sepanjang malam kulihat beliau tidak tidur sama sekali, ketika ku tanyakan hal itu beliau menjawab bahwa sudah selama 30 tahun beliau dalam keadaan seperti itu, 20 tahun kemudian beliau wafat”.
Al-Habib Syeikh bin Hasan Al-Jufri mengatakan “Setelah Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad menikah dengan saudariku, beliau tinggal serumah dengan kami, setiap malam kuamati beliau tidak pernah tidur”.
Beliau sendiri mengatakan “Pada masa permulaan (dari kegiatan mendekatkan diri kepada Allah swt) kami sudah mengurangi makan, makanan yang hendak kami makan, kami timbang dahulu dengan sekerat lidi untuk mengukurnya sedikit-demi sedikit” beliau tidak makan lebih dari satu suap, sekedar untuk dapat berdiri. Beliau sendiri mengatakan “sudah sejak lama selera makan telah tercabut dari diriku dan aku tidak makan kecuali sekedar yang diperlukan”
Semoga bermanfaat.
"Bersama-sama meraih masa depan yang sempurna"







Bacaan ini bersumber dari buku apa ya?
BalasHapus